Senin, 28 Desember 2020

Apakah kita tipe "Yes Man"?

Yuk, kita cek. Apa aja sih tipe atau kriteria orang yang 'yes man'?

1. Suka menyenangkan orang.
Orang yang suka menyenangkan orang hidupnya tidak akan pernah
menyenangi dirinya sendiri. Hati-hatilah kita. Sebab bisa-bisa, demi
menyenangkan orang lain tetapi mengorbankan diri kita sendiri. Itu namanya berlawanan dengan hati nurani kita. Menyenangkan orang lain boleh, tapi ada batasnya, jangan sampai mengorbankan perasaan diri kita sendiri.

2.Suka berlebihan
Tipe 'yes man' juga suka menanggapi segenap keinginan orang lain.
Padahal tidak mungkin kita bisa menyenangkan dan memuaskan orang lain 100 persen.

3.Menipu diri sendiri
Kalau kita selalu mengiyakan perkataan orang lain dan tidak
mau bilang "tidak", hati-hatilah. Ini adalah musyrik kecil, karena kita
telah menghambakan diri pada sesama manusia. Seolah-olah urusan orang
lain lebih penting.

4.Susah bilang, "tidak!"
Tipe 'yes man' biasanya susah untuk bilang tidak. Selalu mengiyakan
kepada apa pun dan siapa pun. Padahal, lebih baik jika kita bicara
apa adanya. Takutlah hanya kepada Allah, bukan kepada sesama manusia.

5.Mengorbankan perasaan
Kalau kita selalu ingin menyenangkan semua orang, yang terjadi kita
malah tidak menyenangkan siapa pun sebenarnya. Termasuk diri
kita sendiri. Kita seperti berdusta (bohong). Kita selalu
mengiyakan apa pun omongan teman, padahal hati kecil kita
tidak mengatakan demikian.

Risiko Menjadi 'yes man'
1.Kita menjadi kurang disiplin, karena tidak bisa bilang tidak terhadap
appoinment baru. Kita sudah janji sama seseorang, tetapi batal tiba-tiba karena ada orang lain lagi yang mengajak kita dan kita tak kuasa menolaknya.
2.Jadi punya reputasi sebagai tukang menyenangkan orang alias 'yes man'.
3.Tidak mau atau tidak pernah tampil beda karena intinya kita tidak
bisa bilang tidak.
4.Mudah diperalat orang lain.
5.Kepribadian pribadi terabaikan.
6.Memiliki sikap yang tidak tegas, karena tidak kuasa bilang tidak.

Ingatlah kata-kata Bill Cosby : Kunci kegagalan seseorang adalah bila ia selalu berusaha menyenangkan orang lain dengan berbagai cara.



.

Minggu, 27 Desember 2020

Segitiga Bercanda (2) 

Aku bertanya kepadamu
Kau diam sambil menunggunya
Dia tanpa beban tetap menunggu yang lain


Terus saja mencandai waktu
Terbuang percuma hingga engkau lelah
Menua....




.

 

Segitiga Bercanda (1)

Aku menunggumu
Kau menunggunya
Dia yang kau tunggu menunggu yang lain

Tak sadar kita mencandai waktu
Menit, jam, pekan, tahun, hingga windu.



.

Senin, 21 Desember 2020

Ibu yang Luar Biasa

Ibu yang Luar Biasa


foto : Srisehry


Ibu hebat ini adalah wanita biasa. Tapi Allah memulikannya dengan cara-Nya yang kelihatan sederhana bagi sebagian manusia tapi luar biasa di mata manusia lainnya. Dialah Halimah binti Abu Dhu’ayb, ibu persusuan Rasulullah.

Sebagaimana kebiasaan bangsa Arab sekitar 14 abad lalu, anak-anak bayi yang masih kecil biasa diasuh dan disusui oleh ibu angkat. Anak-anak yang lahir di kota akan diasuh oleh ibu angkat yang tinggal secara nomaden di padang pasir, agar si anak tumbuh dengan fisik yang kuat. Aminah, ibunda Rasulullah mempercayakan kepada wanita keturunan dari suku Hawazin yang tinggal di sebelah tenggara Mekkah, yang dikenal sangat baik merawat dan menyusui anak-anak.

Pemilihan Halimah sebagai ibu persusuan Muhammad kecil saat itu, bisa dibilang karena ‘terpaksa’, sebab ibu-ibu lain tidak mau menerimanya karena Muhammad sudah menjadi anak yatim sejak bayi, dan berasal dari keluarga miskin. Halimah, ibu seorang anak yang juga masih bayi justru melihat kondisi yatim pada diri Muhammad merupakah sesuatu yang bisa dia harapkan sebagai berkah.

Halimah dan suaminya, Harits adalah sepasang suami istri miskin, unta betinanya sangat kurus dan tidak menghasilkan susu. Keledai milik mereka pun sama seperti untanya. Halimah yang saat itu juga memiliki bayi, tak bisa menyusui dengan baik karena air susunya tak banyak. Halimah tak mengharapkan bayaran tunai atau sesuatu yang melimpah dengan menjadi ibu susu bagi Muhammad kecil, karena hal itu dianggap tak pantas baginya.

Ketika Muhammad SAW yang masih bayi diserahkan ibunya kepada Halimah, saat dia mendekap bayi mungil itu, tiba-tiba payudaranya berisi penuh air susu. Bayi yang baru dipeluknya menyusu sampai kenyang dan tidur lelap di dadanya. Ajaib, unta juga penuh air susu, dan bisa diminum sekeluarga. Keluarga Halimah dan Harits heran dengan keajaiban ini. Singkat kata, Muhammad dan anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik.

Nabi Muhammad kecil tumbuh pesat melebihi anak-anak lain. Halimah sangat menyayangi seperti ia menyayangi anaknya sendiri. Sampai usia dua tahun dia mengasuh Nabi. Meski sedih harus mengembalikan Muhammad kepada ibunya, Halimah masih mendapat keberkahan setelahnya.

Meski ia ibu angkat, ibu susu, namun kasih sayangnya seperti ibu kandung bagi Nabi Muhammad.

Bagaimana dengan ibu kita sendiri? Dengan caranya masing-masing, setiap ibu mendidik dan mengasuh anaknya dengan kasih sayang. Doa-doa menjadi pelengkap harapan yang ia panjatkan kepada Allah Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang. 

Ridha Allah adalah tergantung pada ridha ibu-bapak kita. Seperti juga yang Rasulullah katakana, “Doa orangtua untuk anaknya, bagaikana doa Nabi untuk umatnya.

~Selamat Hari Ibu….

Rawamangun, 21 Desember 2020






Sabtu, 19 Desember 2020

Bravo, Özil! (#2)
Kami makin bangga padamu, Özil

Dampak dari pembelaannya terhadap nasib yang dialami muslim Uighur, berbuntut  tak mengenakan bagi Mesut Özil. Antara lain, beberapa penggemar Arsenal di China membakar kaos jersey bergambar foto Özil. China juga menghapus nama Özil dari game FIFA (Federation International Football Association) dan PES (Pre Evolution Soccer).

Mungkin orang awam akan menyayangkan, kenapa Özil sampai baper soal Uighur. Ini bukan soal baper atau berlebihan. Ini soal ghiroh dan Özil merasa perlu, dia ada berada di pihak mana saat saudara sesama muslim ditindas.

Di akun twitternya Mesut Özil pernah menyampaikan perasaan keprihatinannya. Dia menulis, bahwa China melakukan usaha-usaha melenyapkan Islam dari orang-orang Uighur. Özil tergugah. Bukankah umat Islam telah belajar dari hikmah pembelaan semut kepada Nabi Ibrahim? Meski terkesan sepele pembelaan semut yang kecil, tapi Allah Maha Tahu, apakah ia berpihak kepada Nabi Ibrahim sang Rasul atau kepada Namrudz yang zalim.

Dengan dihapusnya dia dari game FIFA dan PES, besar kemungkinan berpengaruh pada penghasilannya sebagai pemain sepakbola terkenal. Tawaran uang yang menggiurkan nggak bikin Mesut Özil terbelalak silau. Dia paham akan prinsip ghiroh-nya. Kepedulian terhadap penindasan Muslim Uighur tak bisa dibeli dengan uang.

Kita seperti diingatkan pada riwayat kisah sehabis perang di Hamro’ul Asad di masa Rasulullah. Saat itu tentara muslimin sudah kehabisan tenaga. Namun pihak musuh kafir Quraisy belum kembali ke Mekkah. Mereka masih tertahan di Hamro’ul Asad dan berencana akan menyerang kaum muslimin lagi di Madinah. Mengetahui hal itu, Rasulullah SAW menyerukan pasukan muslim yang pernah berperang di Uhud untuk menyusul dan melawan mereka. Rasul melarang orang munafik ikut serta. Dengan semangat kaum muslim yang tadinya sudah kepayahan, bergerak menyusul pasukan musuh. Alhamdulillah pasukan muslim menang, dan mereka mendapatkan harta rampasan perang. Sementara kaum Quraish kembali ke Mekkah membawa kekalahan. Allah pun menolong. Perlu diketahui, umat Islam dalam berperang bukan menyerang tapi karena diserang lebih dahulu dan berperang demi menegakkan agama tauhid.

Dalam skala kecil, kisah Özil mungkin bisa seperti itu. Ketika sudah kepayahan, pastilah pertolongan Allah akan datang. Bukankah hanya Dia Yang Maha Segalanya?

Seperti yang Rasulullah pesankan sejak 14 abad lalu. Nabi SAW sudah mewanti-wanti pentingnya sikap saling peduli terhadap sesama Muslim:

"Barangsiapa yang bangun tidur di pagi hari tanpa memikirkan masalah-masalah kaum Muslimin, dia bukan termasuk golonganku (kaum muslim)."
(Hadits riwayat At-Thabrani)

Allah pun akan menyertai kehidupan hamba-hamba-Nya. Rasul bersabda, “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.”
(HR. Bukhari).

Semoga engkau terus menjaga Allah, Özil, dan Allah pun menjagamu.
Aamiin ya rabbal aalamiin...


Jakarta, Desember 2020

*tulisan ini adalah lanjutan tulisan tentang Ozil dan juga pernah dimuat di Komunitas Belajar Menulis.




Bravo, Özil!
Wir sind stolz auf Dich!

Menjelang akhir tahun 2019 nama Mesut Özil ramai disebut karena keberpihakannya terhadap kondisi muslim Uighur.  Saya suka lihat kelincahan Mesut Özil. Bukan hanya karena dia bermain di kesebelasan Tim Panser, tim favorit saya setiap ajang Piala Dunia dan Eropa. Dia juga sangat peduli terhadap nasib rakyat Uighur.

Mesut Özil yang keturunan Turki membela segenap hati di lapangan hijau untuk negara barunya, Jerman. Lelaki kelahiran 15 Oktober 1988 ini menjadi tim nasional Jerman tahun 2009. Selama ajang Piala Dunia 2010 perhatian internasional tertuju kepadanya sebagai calon pemain terbaik selama turnamen. Dengan tulus hati pun dia memohon agar negara-negara lain peduli terhadap nasib muslim Uighur.

Dan dengan prestasi keren tetap menjadikan Özil muslim yang rendah hati, menjalankan hari-hari di luar lapangan sebagai seorang muslim yang beribadah sesuai syariah agama. Di bulan Ramadhan dia tetap berpuasa, dan saat umroh banyak jamaah yang kagum kepadanya.

Özil adalah generasi ketiga keluarga Turki yang sudah berkewarganegaraan Jerman. Sebagai seorang muslim sekarang Mesut Özil terluka hatinya melihat muslim Uighur. Meski ditekan dan diboikot pertandingan klubnya, Özil bergeming. Tak perlu menjadi seorang muslim untuk bersimpati terhadap kejahatan kemanusiaan. Dan itu dilakukan pemain sepakbola dari kesebelasan kelas dunia, Deutsche Fußball-Weltmeisterschaft alias Tim Panzer.

Betul banget pendirian Özil, ingat pesan Rasulullah :
“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Bagaimana dengan kita di sini?

Kami bangga padamu, Özil.
Semoga kau terus menjaga Allah dan Allah pun menjagamu.


Jakarta, Desember 2020

*tulisan ini rewrite dari tulisan asli saya yang pernah dimuat di Komunitas Belajar Menulis 




Jumat, 18 Desember 2020

Berkenalan dengan Oma Deta

Ini kisah yang terjadi empat tahun lalu. Saya posting di sini karena saya tiba-tiba teringat kepada seorang ibu tua yang ramah. Bagaimana kabar beliau sekarang? Saya baru sekali bertemu dan belum pernah bertemu lagi dengannya. Saya kisahkan kembali perkenalan saya dengannya empat tahun silam.

Wanita lanjut usia yang baru saya kenal ini namanya Ibu Deta, mungkin panggilan singkat dari nama Bernadeta. Kami berkenalan ketika sama-sama menunggu bus kota yang lama banget enggak ada yang lewat di helte Taman Suropati, tempat kami menunggu. Ketika saya sudah menunggu sekitar 15 menitan, datanglah Ibu Deta. Sendirian, dengan senyum ramah meski saya belum mengenalnya, menghampiri tempat duduk di sebelah saya.

Obrolan awal dibuka dengan pertanyaan, sudah berapa lama saya menunggu bus kota? Sambil menunggu, obrolan pun mengalir. Rasanya kami kayak sudah berteman lama. Usia Bu Deta sudah 78 tahun. Karenanya dia lebih suka disapa dengan sebutan Oma, atau Nenek, ketimbang Ibu. Mungkin perbedaan usia yang seperti ibu dan anak dengan saya, dia lebih nyaman disapa Oma.

Oke, Oma Deta yang ramah…

Setiap hari Minggu Oma Deta pergi ke gereja di daerah Menteng Jakarta Pusat, menempuh perjalanan dari rumahnya di Bekasi dengan angkutan umum. Usia tuanya tidak menghalangi semangatnya datang ke rumah ibadah setiap minggu.

“Saya punya teman masa kecil di daerah Jatinegara, dan kami sering janjian ketemu di terminal Kampung Melayu. Lalu kami naik bus berbarengan sampai Taman Suropati. Teman saya menuju masjid Sunda Kelapa untuk pengajian, saya ke gereja. Lalu pulangnya kami janjian lagi, di helte taman ini. Tapi sayang hari ini dia nggak berangkat, saya jadi sendiri. Tapi nggak apa-apa, saya jadi kenalan dengan kamu, Nak,” katanya kepada saya. Oma Deta semasa kecil tinggal di bilangan Jatinegara. Lalu sejak hampir 40 tahun lalu tinggal di Bekasi.

“Saya senang bersahabat dengan siapa saja, tidak pandang agama, ras, suku apa. Saya senang berkenalan dengan orang lain menghormatinya karena kebaikannya, kesalehannya,” jelas Oma.

Seperti membaca riwayat hidup, cerita Oma Deta pun mengalir begitu saja. Penampilannya yang rapi dan sehat di usia tua menyiratkan kalau dia menjalani hidup tertib sejak muda. Suaminya yang tentara sudah lama meninggal karena sakit sebelum masa pensiun tiba. Jadilah Oma yang menjanda tanpa uang pension harus bekerja saat itu. Hidup tanpa anak tidak membuatnya sedih dan kesepian, karena di kantornya Oma dikelilingi anak-anak muda yang ia anggap sebagai anaknya. Sudah seperti saudara. Ia bilang, kantornya perusahaan kecil tapi sangat kerasan kerja di situ sampai waktu yang sangat lama. Pembantu rumah tangganya pun kerja padanya sampai beranjak tua, dan sekarang hanya datang seminggu beberapa kali membantu membersihkan rumah Oma.

“Saat Bekasi diberitakan ada banjir besar, anak-anak buah banyak yang telepon, apakah saya baik-baik saja. Tukang majalah langganan di kantor semasa saya kerja juga mengunjungi saya, khawatir kalau-kalau saya yang tinggal sendiri tidak ada yang menolong,” katanya. Oma bersyukur, merasakan kedekatannya dengan Tuhan terwakili oleh perhatian orang-orang yang dekat di hatinya.

Bus yang kami tunggu sudah satu jam belum datang juga. Waktu menunggu sejam tidak terasa karena asyik ngobrol. “Kita naik bajaj aja yuk? Ongkosnya kita share berdua. Kita bisa turun di Jatinegara, saya melanjutkan naik mikrolet ke Pulo Gadung, dan Ananda lanjutkan perjalanan pulang juga. Bagaimana? Oh, tapi sebentar! Saya lihat ongkos saya dulu ya? Jangan-jangan dengan naik bajaj nanti saya kehabisan ongkos sampai ke rumah,” Oma Deta langsung merogoh ke dalam tasnya.

“Oma nggak perlu bayar ongkos bajaj. Biar saya saja, yuk?” Ajak saya karena Oma sepertinya kesulitan merogoh tasnya.

“Oh, jangan! Saya kan yang mengajak share naik bajaj? Lagian kita baru kenal, masa’ saya membebani kamu? Wah, ada nih uangnya! Puji Tuhan ada uang cukup kok untuk sampai ke rumah!” Oma Deta menunjukkan senyum senangnya. Saya diburu keharuan. Oma yang sudah tua benar-benar mandiri, dan tidak mau merepotkan orang lain.

Kami pun melangkah dari halte bus kea rah jalan sisi kanan Taman Suropati untuk menyetop bajaj. Sekali tawar, supir bajaj pun luluh oleh kami berdua. Bajaj langsung melaju, melewati Pasar Rumput, Manggarai, Matraman, dan Jatinegara. Oma Deta merasa senang siang itu, saya juga.

Semoga Oma Deta sehat wal'afiat sampai sekarang.

Menteng, 18 Desember 2020




Mimpi Indah di Akhir Ramadhan

  Perempuan itu merindukan mimpi yang pernah dialaminya lima belas tahun lebih yang lalu. Mimpi dini hari menjelang berakhirnya Ramadhan y...